Kegiatan


Sekolah alam oleh Jaringan Lembaga Indonesia Mengajar Cabang Yogyakarta

Kepala Bidang Agama dan Sosial Budaya FKPT DIY, Muhammad Mustafid menjadi Narasumber dalam agenda Sekolah Alam yang diselenggarakan Jaringan Lembaga Indonesia Mengajar Cabang Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti para aktifis pecinta alam dari Yogyakarta, Solo, Sragen, Semarang, Banyumas, dan beberapa luar jawa, 23 Maret 2019 di kaki Pegunungan Andong, Jawa Tengah.

Topik yang diangkat dalam pertemuan kali ini adalah "Agama, Sara, Hoaks, dan Pilpres : Refleksi atas Kondisi Sosial Politik Kontemporer", saya menyampaikan materi dengan inti bahwa akar dari carut marut politik saat ini ada empat.

Pertama, pemaknaan politik yang pragmatis yang menekankan pada soal who get what, yang menghilangkan subtansi politik sebagai kebajikan dalam public policy. Kedua, Salah satu akarnya adalah rezim demokrasi elektoral. Dalam rezim ini, kekuasaan ditentukan oleh siapa yang memenangkan pemilu. Untuk memenangkan pemilu, terjadilah kontèstasi dalam memenangkan basis sosial. Karena modal sosial rendah, tidak pernah melakukan pengorganisiran, apalagi pengabdian sosial, maka dibutuhkan instrumen mobilisasi suara. Di sini, kita bertemu dengan dua instrumen yang saat ini paling mematikan : politik identitas dan politik uang. Politik identitas menjadikan agama sebagai alat komoditas politik, basis konsolidasi dan mobilisasi politik, dan senjata politik. Ketiga, masuknya kepentingan kelompok sayap Islam politik radikal dalam arus politik saat ini. Keempat, melemahnya masyarakat sipil dan agamawan transformatif yang mampu menembus berbagai kebuntuan kebuntuan politik identitas dan rezim politik elektoral.

 

(mm)