Kegiatan


Medsos Tempat Bersosialisasi, Jangan Disalahgunakan!

Tanjung Selor, FKPT Center - Media sosial ditengarai telah dimanfaatkan oleh jaringan pelaku terorisme untuk menyebarluaskan ideologi radikal dan merekrut anggota baru. Media sosial sejatinya diciptakan untuk tujuan bersosialisasi antarpenggunanya, tidak seharusnya disalahgunakan.

Ini disampaikan oleh praktisi komunikasi Devie Rahmawati, saat menjadi pemateri di kegiatan 'Ngopi Coi: Ngobrol Pintar Cara Orang Indonesia'. Kegiatan dalam kemasan dialog yang bertujuan mencegah penyebarluasan ideologi radikal terorisme tersebut diselenggarakan oleh BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Kalimantan Utara di Tanjung Selor, Kamis (6/8/2020).

"Apapun platformnya, baik itu facebook, Twitter, IG (Instagram, Red.) atau lainnya, tujuan dari dibuatnya sebenarnya untuk bersosialisasi, saling mengenal dan memperluas jaringan di antara pengunanya. Sayangnya segelintir orang telah menyalahgunakannya," ungkap Devie.

Devie menambahkan, sudah banyak contoh peredaran konten berbau ideologi radikal yang tersebar di media sosial. Beberapa di antaranya bahkan telah memicu konflik antarmasyarakat. "Ini dampak yang harus menjadi perhatian kita semua. Jangan salahgunakan media sosial agar kehidupan bermasyarakat kita tetap rukun dan damai," tegasnya.

Tenaga pengajar di FISIP Universitas Indonesia tersebut juga mengatakan, penyalahgunaan media sosial untuk menyebarluaskan ideologi radikal terorisme merupakan dampak dari  kemajuan teknologi yang memang tidak dapat dielakkan. Untuk meredamnya, masyarakat diminta untuk ikut mencegah terjadinya hal negatif tersebut.

"Salah satu yang bisa dilakukan masyarakat adalah tidak menyebarkan hoaks. Ideologi radikal banyak disebar dalam kemasan hoaks, sehingga dengan menahan peredaran hoaks kita sudha ikut menahan penyebarluasan ideologi radikal," jelas Devie.

Ketua Bidang Media Massa, Hukum, dan Humas FKPT Kalimantan Utara, Datu Iskandar, sependapat dengan apa yang disampaikan oleh Devie Rahmawati. Masyarakat Kalimantan Utara didorong untuk berlaku bijak dalam menggunakan media sosial, sehingga dapat berperan dalam mencegah tersebarluaskannya ideologi radikal terorisme.

"Lakukan perubahan cara berfikir. Jika dulu kita dengan mudah share setiap info yang kita terima, sekarang hentikan kebiasaan tersebut. Saring setiap informasi sebelumnya kita ingin men-share-nya kembali," kata Iskandar.

Iskandar juga mendorong masyarakat memperluas pengetahuan dengan banyak mendengar dan membaca informasi dari sumber-sumber yang benar. Luasnya pengetahuan akan menjadikan setiap orang memiliki kemampuan menyeleksi informasi yang diterimanya dari media sosial. [shk/shk]